ArtikelNasional

DUA OPSI AKHIRI KONFLIK PAPUA , DIALOG ATAU REFERENDUM.

14
×

DUA OPSI AKHIRI KONFLIK PAPUA , DIALOG ATAU REFERENDUM.

Sebarkan artikel ini

Centralinformationasean.com, Opini, Setelah seluruh elemen dan Pemerintah Propinsi Papua menolak Otsus.

Maka sesungguhnya kalau mau jujur Presiden Waktu itu dan Kabinetnya kini hanya menyisakan dua pilihan.

Opsi ini kalau Indonesia memang benar-benar dan secara sungguh-sungguh ingin mengakhiri konflik berkelanjutan di Papua.

Opsi itu adalah Dialog dan Fererendum.
Pertama, Dialog. Usulan dialog bukan gagasan baru, Almarhum mendiang, Pater Dr Neles Tebay, melalui Jarigan Damai Papua (JDP), sudah lama menggagas pentingnya pendekatan penyelesaian berbagai konflik persoalan Papua melalui jalan dialog. Sampai akhir wafatnya gagasan ini selalu ditampik Jakarta.

Pendekatan yang selalu diutamakan Jakarta selalu pendekatan pembangunan dan mengerahkan kekuatan militer. Puluhan nyawa baik aparat militer maupun TPNPB dan mahasiswa Papua menjadi saksi bahwa pendekatan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan selalu gagal memakmurkan rakyat Papua yang Sumber Daya Alamnya kaya raya dan pendekatan militer selalu dan selamanya gagal total.

Kini menyisakan satu lagi dari dua pilihan pendekatan lagi yakni referendum atau jajak pendapat. Gagasan ini bukan gagasan baru tapi Indonesia punya pengalaman di Timor Leste yang hasilnya Indonesia kalah multak.

Mendengar kata referendum banyak pihak alergi padahal pendekatan ini sesungguhnya lebih menjanjikan kepastian terlaksananya demokrasi bagi Wilayah Papua guna mengakhiri konflik bersenjata tanpa berkesudahan itu.

Bahkan konon banyak saksi hidup mengatakan sejak dini proses PEPERA Tahun 1963 dilaksanakan dibawah ancaman moncong senjata dan protes orang Papua terus muncul tanpa berkesudahan mempersoalkannya. Sekalipun pada akhirnya resolusi PBB menerima hasil PEPERA 8 tahun kemudian yakni tahun 1971 bahwa Papua sebagai bagian Indonesia.

Dari dua pendekatan ini yang paling mungkin karena akan lebih menjamin proses demokratisasi bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi penganut demokrasi Pancasila. Maka sesungguhnya tidak ada solusi lain kecuali hanya menyisakan dua opsi pendekatan ini dapat mengakhiri seluruh rangkaian kekerasan demi kekerasan di Papua sebagai solusi terakhir secara permanen mengakhiri konflik.

Tinggal kini keberanian Presiden Jokowi seperti Gus-Dur dan Habibie mau pakai pola mana. Pola Aceh berarti pendekatannya dialog melibatkan pihak ketiga negara lain sebagai wasit. Atau pola kedua, yaitu pola Timor Leste yang akhirnya Timor Timur merdeka.

Ini hanya masukan baik tidak baik tergantung anda dan saya dari sudut pandang berbeda memandangnya tapi tiada jalan lain selain opsi perdamaian pola Aceh atau pola Timor Leste dengan referendum.

Kalau kembali Otsus rasa-rasanya saya skeptis malah tidak percaya akan sanggup dapat mengakhiri konflik berkepenjangan Papua kecuali solusi tipu-tipu silahkan, disini saya hanya membuka pikiran jalan lain menuju solusi permanen konflik Papua.

Mungkin barangkali bagi kebanyakan orang ini pioihan gila tapi ini memang pilihannya untuk solusi permanen bagi Papua karena dua opsi ini bukan hal yang baru dan pertama bagi Indonesia bukan?

(Ismail Asso/ Sholihul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *