Nasional

Legenda Lawang Sewu ,Jawa Tengah dengan “Seribu Pintu”, mengacu jumlah pintu dan jendela Sewu.

6
×

Legenda Lawang Sewu ,Jawa Tengah dengan “Seribu Pintu”, mengacu jumlah pintu dan jendela Sewu.

Sebarkan artikel ini

Centralinformationasean.com, 5/12/2024, Sejarah, Lawang Sewu (Seribu Pintu) sebuah bangunan bersejarah yang terletak di Kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.

Nama Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Seribu Pintu”, mengacu pada jumlah pintu dan jendela yang sangat banyak di bangunan ini.

Sejarah Lawang Sewu dimulai pada awal abad ke-20, ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Bangunan ini awalnya didirikan sebagai markas administrasi perusahaan kereta api Belanda, yaitu Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pembangunannya dimulai pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.

Lawang Sewu dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Cosman Citroen dengan gaya arsitektur neo-klasik. Bangunan ini memiliki corak arsitektur Eropa dengan sentuhan gaya lokal, seperti ornamen-ornamen Jawa pada bagian atapnya. Lawang Sewu terdiri dari dua bangunan utama yang terhubung oleh jembatan penghubung, yang membentuk tampilan seperti gerbang dengan banyak pintu dan jendela.

Selama masa penjajahan Belanda, Lawang Sewu berfungsi sebagai pusat administrasi NIS. Selain itu, bangunan ini juga menjadi stasiun kereta api utama di Semarang. Dari Lawang Sewu, perusahaan kereta api Belanda mengoperasikan layanan transportasi kereta api ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selama Perang Dunia II dan masa penjajahan Jepang, Lawang Sewu menjadi saksi kejadian bersejarah. Pada tahun 1942, pasukan Jepang merebut Semarang dan menggunakan Lawang Sewu sebagai markas mereka. Selama masa tersebut, bangunan ini menjadi saksi dari kekejaman dan penyiksaan yang dilakukan oleh pasukan Jepang terhadap tahanan politik dan tawanan perang.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya pada tahun 1945, Lawang Sewu tetap berfungsi sebagai kantor dan stasiun kereta api. Namun, pada tahun 1960-an, perannya sebagai stasiun kereta api berkurang dengan dibukanya stasiun baru di Kota Semarang.

Pada tahun 1989, Lawang Sewu diambil alih oleh PT Kereta Api Indonesia dan kemudian dijadikan sebagai tempat pelatihan.

Sejarah Lawang Sewu dimulai pada awal abad ke-20, ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Bangunan ini awalnya didirikan sebagai markas administrasi perusahaan kereta api Belanda, yaitu Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pembangunannya dimulai pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.

Lawang Sewu dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Cosman Citroen dengan gaya arsitektur neo-klasik. Bangunan ini memiliki corak arsitektur Eropa dengan sentuhan gaya lokal, seperti ornamen-ornamen Jawa pada bagian atapnya. Lawang Sewu terdiri dari dua bangunan utama yang terhubung oleh jembatan penghubung, yang membentuk tampilan seperti gerbang dengan banyak pintu dan jendela.

Selama masa penjajahan Belanda, Lawang Sewu berfungsi sebagai pusat administrasi NIS. Selain itu, bangunan ini juga menjadi stasiun kereta api utama di Semarang. Dari Lawang Sewu, perusahaan kereta api Belanda mengoperasikan layanan transportasi kereta api ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selama Perang Dunia II dan masa penjajahan Jepang, Lawang Sewu menjadi saksi kejadian bersejarah. Pada tahun 1942, pasukan Jepang merebut Semarang dan menggunakan Lawang Sewu sebagai markas mereka. Selama masa tersebut, bangunan ini menjadi saksi dari kekejaman dan penyiksaan yang dilakukan oleh pasukan Jepang terhadap tahanan politik dan tawanan perang.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya pada tahun 1945, Lawang Sewu tetap berfungsi sebagai kantor dan stasiun kereta api. Namun, pada tahun 1960-an, perannya sebagai stasiun kereta api berkurang dengan dibukanya stasiun baru di Kota Semarang.

Pada tahun 1989, Lawang Sewu diambil alih oleh PT Kereta Api Indonesia dan kemudian dijadikan sebagai tempat pelatihan.

( Sholihul)
..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *