Centralinformationasean.com, 30/11/2024, Filsafat, Pada konteks terapan, fokus pada kasus spesifik memang wajib, harus, dan penting.
Namun, boleh tidak filsuf-terapan memodifikasi teori dengan argumentasi praktis? Atau mungkin, bagaimana bila peneliti ingin membentuk teori baru dari argumentasi praktis plus eksplorasi teoretis? Saya pikir boleh, dan itulah mengapa ia juga filsuf karena ia berfilsafat, membangun teori filsafat.
Posisi saya ini membebaskan filsuf-terapan dalam melakukan penelitian: entah ia akan fokus secara penuh pada kasus spesifiknya sehingga tidak mengotak-atik teori filsuf-aliran yang dipakai, atau ia akan mengotak-atik teori untuk memecahkan kasus praktis yang diteliti, atau bahkan mungkin membuat teori baru dari argumentasi praktis plus berbagai eksplorasi teoretis.

Bagaimanapun, dapat dipahami bahwa skema filsuf-terapan mirip dengan filsuf-interpretator. Hal yang berbeda adalah filsuf-interpretator membatasi penelitiannya perihal interpretasi-atribusi argumentasi filsuf, sedangkan filsuf-terapan membatasi penelitiannya perihal interpretasi praktis atas argumentasi filsuf terkait kasus spesifik tertentu.
Sehingga, berlaku pula bahwa apabila ingin penelitian ini ada secara khusus dan terpisah, maka perlu ada jurusan yang berbeda dari filsafat umum sebab fokusnya berbeda, luaran dan skill set-nya berbeda.

Filsuf-terapan menginterpretasikan argumentasi filsuf yang kemudian dikaitkan dengan kasus spesifik, sementara filsuf-umum menginterpretasikan argumentasi filsuf untuk memahami dan kemudian berfilsafat.
Saya membayangkan filsuf-terapan dengan filsuf-umum seperti orang teknik dengan akademisi pada umumnya. Apabila ingin filsuf-terapan ada secara khusus dan terpisah, maka jurusannya juga harus terpisah sebab skill set dari penelitian mereka berbeda.
Akan tetapi, perlu dipahami bahwa baik skill set dari filsuf-interpretator maupun skill set dari filsuf-terapan memerlukan core skill set dari seorang filsuf-umum; maka, agar proses dan birokrasi pendidikannya sederhana, ajarkan saja skill set menjadi seorang filsuf yang hendak memecahkan problem filsafat, sisanya terserah mahasiswa ingin menjadi filsuf yang seperti apa.
(Sholihul)












