Centralinformationasean.com, 1/12/2024, Pati, Ratu Malang, yang memiliki nama asli Retno Gumilang, adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Mataram. Kisah hidupnya yang penuh intrik dan tragedi mencerminkan dinamika sosial dan politik pada masa itu, terutama dalam konteks hubungan antara kekuasaan dan cinta.
Latar Belakang Keluarga
Ratu Malang adalah putri dari Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog yang terkenal. Sebelum menjadi selir raja, ia menikah dengan Ki Panjang Mas, seorang dalang terkemuka di Mataram. Pernikahan ini berlangsung pada masa pemerintahan Panembahan Seda ing Krapyak, dan keduanya dikenal sebagai pasangan yang harmonis.

Pertemuan dengan Amangkurat I
Kisah cinta Ratu Malang dengan Amangkurat I (Raden Mas Sayidin), raja keempat Mataram Islam, dimulai ketika Amangkurat I jatuh cinta pada pandangan pertama.
Kecantikan Ratu Malang membuat raja terpesona, meskipun ia sudah bersuami. Amangkurat I berusaha untuk mendapatkan Ratu Malang meskipun ditolak oleh Ki Panjang Mas.
Dalam upaya merebut hati Ratu Malang, Amangkurat I memerintahkan pembunuhan terhadap Ki Panjang Mas, yang kemudian menjadi titik balik tra.gis dalam hidup Ratu Malang.

Menjadi Permaisuri
Setelah kematian Ki Panjang Mas, Ratu Malang diangkat menjadi selir dan kemudian permaisuri oleh Amangkurat I. Ia diberikan gelar Ratu Wetan.
Namun, meskipun telah menjadi permaisuri, Ratu Malang tetap mencintai suaminya yang telah tiada. Hubungan ini menyebabkan ketegangan di istana karena Amangkurat I terlalu terobsesi dengan Ratu Malang, mengabaikan urusan kerajaan.
Tragedi dan Kematian
Keberadaan Ratu Malang di istana tidak berjalan mulus.

Ia mengalami kesedihan mendalam setelah kehilangan Ki Panjang Mas dan menderita sakit akibat tekanan emosional.
Ratu Malang akhirnya meninggal dunia dalam kondisi yang mencurigakan; banyak yang percaya bahwa ia dirac.uni. K3mat.ian Ratu Malang sangat mempengaruhi Amangkurat I, yang merasa kehilangan besar dan menghukum banyak dayangnya sebagai pelampiasan rasa sakitnya.
Makam Ratu Malang
Makam Ratu Malang dibangun oleh Amangkurat I di Gunung Kelir pada tahun 1665 dan selesai pada tahun 1668.
Kompleks makam ini dinamakan Antaka Pura, yang berarti “istana k3matian.” Di dalamnya terdapat 28 nisan yang dikelompokkan menjadi tiga bagian, termasuk nisan Ki Panjang Mas.
Makam ini kini menjadi situs cagar budaya yang dihormati oleh masyarakat sekitar.
Kesimpulan
Kisah hidup Ratu Malang adalah contoh nyata dari cinta yang terhalang oleh kekuasaan dan intrik politik.
Ia dikenang bukan hanya sebagai permaisuri Amangkurat I tetapi juga sebagai simbol dari trage.
di cinta segitiga dalam sejarah Mataram. Makamnya di Gunung Kelir tetap menjadi tempat ziarah dan pengingat akan kisah hidupnya yang penuh warna dan kesedihan.
( Sholihul)












