ArtikelNasional

RAJA JAWA , SEJARAH KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUWONO XI.

10
×

RAJA JAWA , SEJARAH KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUWONO XI.

Sebarkan artikel ini

Centralinformationasean.com, Sejarah, Sampeyan dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XI.
Lahir pada 1 Februari 1886 & wafat pada 1 Juni 1945 di usia 59 th.
Beliau juga dikenal sebagai perokok berat, khususnya cerutu.

Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunagoro VII
Lahir pada 12 November 1885 & wafat pada 19 Juni 1944 di usia 59 th.
Beliau juga dikenal sebagai perokok berat, khususnya cerutu.

Jauh sebelum wilayah2 yg kini disebut sebagai Indonesia, kebiasaan mengisap cerutu semula dikenalkan oleh orang Eropa.
Orang orang Belanda pada abad 17 punya kebiasaan “menenggak segelas jenewer sebelum sarapan pagi & menjelang sore mengonsumsi bergelas-gelas arak sambil duduk tanpa baju di rumahnya yg gelap dan kurang angin. Dan karena cerutu cerutu Belanda yg kecil hanya berharga sekian gulden per kotak & cerutu2 Havana yg semok itu hanya selisih beberapa gulden lebih mahal … maka udara Betawi selalu biru karena asap tembakau,” tulis Simon Winchester dlm Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (2007).

Perlahan orang orang pun menirunya. Bagi pribumi inferior, mengisap cerutu & minum arak bisa membuat mereka merasa seperti orang2 Eropa. Adrian Vickers dlm Sejarah Modern Indonesia (2005) menyimpulkan: “Jika mengenakan sepatu membuat seseorang setara dgn Belanda, maka sensasi baru merokok kretek khas Indonesia adalah penanda seseorang yg memiliki kecanggihan kota.”

Cerutu tidak berasal dari Eropa & asal muasal cerutu belum terang benar. Ada yg menyebut bahwa kebiasaan mengisap cerutu dari peradaban suku Maya. Menurut Encyclopedia of American Indian Contributions to the World (2009), istilah bangsa Maya untuk merokok adalah sikar, akar kata untuk cigar alias cerutu.

Di era pemerintahan kolonial, perkebunan tembakau, termasuk untuk rokok & cerutu, mulai berkembang sebagai industri sejak era Tanam Paksa pada 1830. Ada sedikitnya tiga sentra tembakau cerutu sejak masa itu: Deli, kawasan pantai timur Sumatera; Vorstenlanden atau ‘Tanah Kerajaan’ untuk menyebut kawasan di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta dan Karesidenan Besuki (Jember, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo & Banyuwangi).
“Deli menjadi termasyhur di dunia sebagai kawasan produksi daun pembungkus cerutu,” tulis Jan Breman dlm Menjinakkan Sang Kuli (1997).

Menurut Ensiklopedia Kretek (2014), yg menjabarkan dunia tembakau dari A-Z, pelopor perkebunan tembakau untuk cerutu di Deli bernama Deli Maatschappij.

Ia didirikan pada 1869 oleh Jacobus Nienhuys, P.W. Janssen, dan Jacob Theodare Cremer. Ia merajai pasar tembakau Deli yg dikenal sebagai bahan pembungkus cerutu alias wraffer terbaik dunia. Saat pecah Perang Dunia I (1914-1918), lebih dari 92% wraffer impor di Amerika Serikat didatangkan dari Sumatera.

Di Vorstanlanden, orang bernama Mendez da Costa dianggap pelopor tembakau jenis cerutu di wilayah yg kini masuk daerah Klaten itu pada 1858. Sementara di Besuki, tembakau Na-oogst alias tembakau untuk cerutu kini sentra terbesarnya berada di Jember. Jember juga dikenal berkat pengembangan satu-satunya perkebunan tembakau Kuba di Indonesia.

Di Yogyakarta pada 1918 berdiri sebuah pabrik cerutu—yang dikenal sebagai Negrosco.
Semula pabrik ini berada di daerah Bulu, sekitar Jalan Magelang. Pada 1923 pindah ke Baciro. Di zaman pendudukan Jepang, ia berganti nama menjadi Jawa Tobacco Kojo. Belakangan diambilalih & menjadi Taru Martani alias ‘Daun Kehidupan’.

Pabrik tersebut, menurut Anton Haryono dlm awal mulanya adalah,

Muntilan: misi Jesuit di Yogyakarta, 1914-1940, merekrut pekerja dgn bantuan seorang pastur bernama van Driesche. Pastur lain bernama Frans Strater menilai bahwa “pabrik cerutu Negrosco cukup membantu kesejahteraan para pekerja.”

Di masa revolusi kemerdekaan, menurut Adaby Darban dlm Biografi Pahlawan Nasional Sultan Hamengku Buwana IX (1998), Sang Sultan berbisnis berpeti-peti cerutu untuk revolusi.

“Setelah perjalanan selama 12 jam dengan kereta api ke Jakarta, Sultan sempat menukarkan berpeti-peti cerutu Yogya dengan ban mobil,” tulis Darban.

Menurut pengakuan dr. Abdul Halim dalam Di Antara Hempasan & Benturan:

Kenang-kenangan dr Abdul Halim 1942-1950 (1981), “Kalau Sri Sultan datang dari Yogyakarta, beliau membawa rokok Negresco. Rokok itu dibikin di Yogya, cerutu kaleng, Republik punya.”

Dari pabrik cerutu yg didirikan Belanda, hasil produksinya kemudian dinikmati para Republiken, bahkan digunakan pula untuk melawan Belanda. Nasionalisasi aset memungkinkan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta & Bank Indonesia membelinya pada 1950 ^ menjadikannya sebagai Perusahaan Daerah Taru Martani. Hingga kini pabrik ini setidaknya memproduksi 14 jenis cerutu sebagai komoditas ekspor, termasuk merek Ramayana dan Adipati.

( Sholihul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *