Centralinformationasean.com,26/11/2024) Dunia , Propaganda Budaya dan Stigmatisasi Hijab tak hanya di Indonesia saja, Negara Eropa pun mengalami.
Belanda secara sistematis menggunakan media, pendidikan, dan seni untuk menggambarkan hijab sebagai sesuatu yang “tidak modern,” “kuno,” atau bahkan “tidak higienis.” Muslimah yang berhijab digambarkan sebagai perempuan yang terbelakang dan terisolasi dari perkembangan zaman.
Mereka mempropagandakan bahwa perempuan “modern” adalah yang mengikuti mode Barat, seperti gaun tanpa lengan dan rok pendek, yang bertentangan dengan prinsip Islam.
Penerapan propaganda ini terlihat dalam sekolah-sekolah kolonial.
Muslimah yang memakai hijab sering kali dipermalukan di ruang kelas, dipaksa melepas kerudungnya, atau bahkan dilarang masuk ke sekolah.
Dalam beberapa acara formal yang diatur oleh pemerintah kolonial, perempuan berhijab sering kali tidak diundang atau ditekan untuk mengikuti kode berpakaian ala Barat.
Belanda memberlakukan aturan yang secara tidak langsung melarang hijab melalui kebijakan berpakaian di tempat-tempat umum dan pemerintahan. Misalnya:
Dalam lingkungan kerja pemerintahan atau administrasi kolonial, Muslimah tidak diizinkan mengenakan pakaian yang mencerminkan identitas keagamaan mereka, termasuk hijab.
Di tempat umum tertentu, penjajah secara terang-terangan melarang wanita mengenakan pakaian Islami dengan dalih menjaga “keseragaman budaya” atau menghindari “fanatisme agama.”
Perempuan Muslim yang bersikeras memakai hijab dipersulit dalam mengakses layanan publik, seperti transportasi umum atau pasar, yang sering kali dikuasai oleh administrasi Belanda.
Upaya Belanda untuk melarang hijab justru memicu kebangkitan identitas Islam yang lebih kuat di Jawa.
Organisasi Islam seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama secara aktif melawan propaganda ini dengan mendidik perempuan Muslim untuk memahami pentingnya hijab dalam Islam dan melawan upaya asimilasi kolonial. Hijab, dalam konteks ini, menjadi lebih dari sekadar pakaian: ia menjadi simbol perlawanan, kesetiaan kepada agama, dan tekad untuk melawan penjajahan.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa hijab Muslimah di Jawa bukan hanya soal tradisi, tetapi juga perjuangan melawan penjajahan budaya, identitas, dan agama. Belanda, dalam upayanya menundukkan rakyat Jawa, gagal memahami bahwa iman dan identitas jauh lebih kuat daripada tekanan kolonial.
Penjajah Belanda sering kali menggunakan elite pribumi yang pro-kolonial untuk mendorong agenda mereka.
Para ningrat yang sudah dipengaruhi gaya hidup Barat didorong untuk menertawakan atau meremehkan perempuan Muslimah yang tetap berhijab.
Dalam banyak kasus, perempuan dari keluarga bangsawan yang mengikuti tradisi hijab Islam ditekan oleh lingkungannya sendiri untuk meninggalkan praktik tersebut demi dianggap “modern.”
Belanda juga mencoba memecah belah solidaritas Muslim dengan menciptakan citra perempuan Muslim berhijab sebagai ancaman terhadap harmoni masyarakat…
Mereka menggambarkan Muslimah yang berpegang teguh pada hijab sebagai pendukung fanatisme atau kelompok-kelompok radikal yang menentang kolonialisme. Narasi ini digunakan untuk menanamkan ketakutan pada kelompok non-Muslim terhadap Islam…
Belanda menguasai institusi pendidikan untuk menyebarkan nilai-nilai Barat dan menjauhkan generasi muda Muslimah dari ajaran agama mereka.
Di sekolah-sekolah kolonial, Muslimah sering kali diajarkan bahwa hijab adalah hambatan bagi pendidikan dan kemajuan sosial. Selain itu, seni tradisional yang mendukung nilai-nilai Islam ditekan, sementara seni modern ala Barat didorong sebagai model yang ideal.
( Sholihul Hadi)












