ArtikelNasional

Lasiyo Profesor Pisang Tidak lulus SD ,Tidak Bakal Guna Di Negeri Sendiri.

5
×

Lasiyo Profesor Pisang Tidak lulus SD ,Tidak Bakal Guna Di Negeri Sendiri.

Sebarkan artikel ini

Centralinformationasean.com, Iptek, Mungkin Anda belum mengenal siapa Lasiyo Syaifuddin.

Namun, nama pria asal Bantul ini telah dikenal ilmuwan dunia, terutama ilmuwan bidang pertanian.
Bahkan, Lasiyo dianugerahi gelar ‘Prosefor Pisang’.
Ya, Lasiyo bekerja sebagai petani pisang.

Profesi yang mengantarkan dia ke gerbang kesuksesan ini ternyata bermula dari peristiwa gempa 5,6 skala Richter di Bantul.

Bencana alam itu menghancurkan tempat tinggal, harta benda hingga mengakibatkan kehilangan pekerjaan. Lasiyo pada akhirnya memutuskan untuk menjadi petani pisang (usai gempa).

Lasiyo kemudian pergi ke lurah desa untuk memohon agar pengadaan bibit pohon pisangnya bisa difasilitasi. Sang lurah mengabulkan permohonannya.

Lasiyo dan masyarakat sekitar pun berbondong-bondong menanam pisang di halaman atau lahan kosong miliknya masing-masing.

Lasiyo kemudian ‘mengembangkan’ pestisida dengan bahan-bahan sederhana secara otodidak.

Ya, pria asal Bantul itu hanya memadukan bawang merah dan kucai untuk menghasilkan pestisida berkualitas. Tak hanya itu, ‘ramuan otodidak’ itu juga mampu merangsang tumbuh kembang pohon pisang.

Berkat kecerdasan otodidaknya itu, Lasiyo mampu memotong masa pembibitan dari empat bulan menjadi dua bulan.

Pisang yang dihasilkan pun sangat berkualitas. .
Berkat kecerdasan otodidaknya juga, Lasiyo didatangi para ilmuwan dari berbagai negara, seperti Jepang, Belanda, Thailand, Australia hingga Italia.

Mereka tertarik untuk mendengarkan cara membudidayakan pisang dengan cepat.
.
Bahkan, ilmuwan dunia yang terheran-heran itu membawa Lasiyo ke Italia untuk mengikuti seminar yang dihadiri ilmuwan dari 70 negara.

Pria yang tampak berpenampilan biasa-biasa saja itu diminta menjadi pembicara dan mempresentasikan temuan-temuan otodidaknya terkait pembudidayaan pisang.

Menariknya, Lasiyo yang mengikuti kejar paket B (setara SMP) ini sempat menyesal karena tak mampu berbahasa Inggris.

( Sholihul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *