Nasional

Kusumanarso , Ibunda dari Pangeran Mangkunagara Di Kartasura

20
×

Kusumanarso , Ibunda dari Pangeran Mangkunagara Di Kartasura

Sebarkan artikel ini

Centralinformationasean.com, 7/12/2024, SejarahBendara Raden Ayu Kusumanarsa adalah Garwa pertama / Garwa Sepuh Susuhunan Amangkurat IV, Raja Kraton Mataram Kartasura.

BRAy Kusumarsa adalah Ibunda dari Pangeran Mangkunagara ing Kartasura, Ayahanda RM Said.

Sejak kecil, RM Said dibawah asuhan Eyang putrinya.

Ketika RM Said memutuskan untuk keluar dari Istana, BRAy Kusumanarsa sangat mendukung keinginan cucunya tersebut dan beliau menemani cucunya keluar dari Keraton menuju Nglaroh.

apalagi Nglaroh tempat tujuan tersebut adalah rumah masa kecil Beliau.

BRAy Kusumanarsa bukan perempuan biasa karena Beliau adalah cucu canggah Sultan Agung Hanyokrokusumo
( Canggah : Grad IV ) dari Sultan Agung Hanyokrokusumo

Berikut silsilahnya:
1.Sultan Agung Hanyokrokusumo berputra :
RM Kasim (Pangeran Demang Tanpa Nangkil I)

2.Pangeran Demang Tanpa Nangkil I berputra :
Panembahan Demang Tanpa Nangkil II, beliau bertempat di daerah Sukowati ( Sragen ).

3. Panembahan Demang Tanpa Nangkil II berputra : Raden Demang Hadiraja I yang menjadi Penguasa di Tanah Nglaroh.

4. Raden Demang Hadiraja I berputra :
4.1. Mas Ayu Kusumanarso ( menjadi Garwa Pertama Sunan Amangkurat IV )
4.2. Raden Demang Hadiraja II, menjadi Penguasa di Tanah Nglaroh.

5.1. Mas Ayu Kusumanarso menurunkan Pangeran Mangkunagara hing Kartasura. P Mangkunagara berputra RM Said / RM Suryakusuma ( KGPAA Mangkunagara I )

B.R.Ay Kusumanarso wafat :
Dikisahkan setelah RM Said ( Pangeran Suryakusuma ) bertempat tinggal di Pesanggrahan Gumantar, Eyang beliau BRAy Kusumanarso, garwa sepuh Prabu Amangkurat IV berkata kepada cucunya, beliau berkeinginan menengok para familinya di Dhusun Nglaroh. Kemudian Pangeran Suryakusuma menyetujui dan mengantar sang Eyang ke Dhusun Nglaroh didampingi Raden Ngabei Kudanawarso dan para abdi dalem Kawandoso Joyo. BRAy Kusumanarso naik Tandhu.

Ketika perjalanan sampai di Dhusun Seneng, rombongan berhenti untuk beristirahat karena BRAy Kusumanarso merasa sariranipun mboten sekeca ( tidak enak badan ).

Kemudian Pangeran Suryakusuma memerintahkan salah satu pengawalnya untuk berangkat ke Nglaroh dan meminta para famili untuk datang ke Dhusun Seneng.

Sementara itu di Dhusun Seneng kondisi BRAy Kusumanarso semakin parah. Beliau kemudian berpesan kepada cucunya:

” Jika waktuku telah tiba, tolong jasadku letakkanlah diatas gethek ( rakit / perahu yang dibuat dari potongan bambu ) kemudian dilarung ( dihanyutkan ) mengikuti arus air sungai Panti Sawa hingga dimana rakit akan berhenti disitulah aku engkau kuburkan.

Sekarang buatlah gethek ”
Setelah berkata, tidak beberapa lama kemudian BRAy Kusumanarso seda ( wafat )
Setelah disucikan dan disholatkan kemudian Jasad BRAy Kusumanarso diangkat dan dibawa ke atas rakit yang sudah disiapkan dipinggir Sungai Pantisawa. Kemudian rakit didorong ke tengah sungai mengikuti aliran sungai.

Pangeran Suryakusuma dan Raden Ngabei Kudanawarso mengikuti dari belakang naik perahu, dan para famili ada yg ikut naik rakit , ada yang berjalan dipinggir sungai.

Tidak beberapa lama kemudian gethek / rakit tiba tiba berhenti dan menepi tepat di Dhusun Keblokan.
Kemudian jasad BRAy Kusumanarso dimakamkan di Dhusun Keblokan.

Kemudian gethek bambu di bongkar dan ditancapkan di tanah didekat makam KBRAy Kusumanarso.
Setelah selesai pemakaman, kemudian Pangeran Suryakusuma dan para pengawal kembali ke Gumantar, sedangkan para famili kembali ke Dhusun Nglaroh.

Al Fatihah kagem Eyang BRAy Kusumanarsa.
Makam BRAy Kusumanarso di Desa Keblokan, Sendang Ijo Selogiri Wonogiri.
Dikisahkan oleh K.R.T Koes Sajid Jayaningrat.

( Sholihul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *