Centralinformationasean.com, Sejarah, Andi Depu Maraddia Balanipa, yang juga dikenal sebagai Puang Depu Maraddia Balanipa atau Ibu Agung, adalah seorang pejuang wanita asal Indonesia yang lahir pada 1 Agustus 1907 di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia merupakan tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama dalam mempertahankan bendera Merah Putih dari penjajahan Belanda.
Latar Belakang
Keluarga dan Pendidikan: Andi Depu berasal dari keluarga bangsawan Mandar. Ayahnya adalah Raja Balanipa ke-50, Lajju Kanna Doro. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan istana dan mendapatkan pendidikan informal di dalam istana serta pendidikan formal pada tingkat dasar.
Perjuangan Melawan Penjajah
Perlawanan Terhadap Belanda: Pada tahun 1942, saat pasukan Jepang datang ke Tanah Mandar, Andi Depu mengibarkan bendera Merah Putih dan bertekad untuk mempertahankan kemerdekaan. Ia terkenal karena aksinya yang berani saat menghadapi tentara Belanda yang ingin menurunkan bendera tersebut. Dengan semangat juang yang tinggi, ia berseru “Allahu Akbar” dan menyatakan bahwa mayatnya harus dilangkahi jika mereka ingin menurunkan bendera itu.
Organisasi Perjuangan: Andi Depu menjadi pemimpin organisasi kelaskaran bernama KRIS MUDA Mandar, yang berjuang melawan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) dan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Ia memimpin beberapa serangan terhadap penjajah dan terlibat aktif dalam pergerakan kemerdekaan di daerah Mandar.
Konsekuensi Pribadi
Perpisahan dengan Suami: Ketika suaminya, Andi Baso Pabiseang, lebih memilih untuk bekerja sama dengan NICA, Andi Depu memilih untuk berpisah demi idealismenya terhadap Republik Indonesia. Keputusan ini mencerminkan komitmennya terhadap perjuangan kemerdekaan meskipun harus meninggalkan kenyamanan hidupnya sebagai seorang raja.
Penangkapan dan Pembebasan
Pada 26 November 1946, Andi Depu tertangkap oleh tentara Belanda dan dipenjarakan di Penjara Layang Makassar. Ia sering dipindahkan dari satu tempat tahanan ke tempat lain selama masa penahanan. Setelah dibebaskan pada akhir tahun 1949, ia terus berjuang untuk mendukung pembubaran Negara Indonesia Timur (NIT) yang didirikan oleh Belanda.
Penghargaan
Pada 10 November 2018, Andi Depu dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo melalui Keppres No 123/TK/Tahun 2018. Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Warisan
Andi Depu meninggal pada 18 Juni 1985 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang di Makassar. Ia dikenang sebagai salah satu srikandi Indonesia yang gigih memperjuangkan kemerdekaan dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Kesimpulan
Andi Depu Maraddia Balanipa adalah sosok penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama bagi masyarakat Mandar. Aksinya yang berani dan dedikasinya terhadap Republik menunjukkan semangat juang yang tinggi serta komitmen terhadap nilai-nilai kemerdekaan.












