ArtikelNasional

Money Politik Kembali Marak ,Pemilu Makin Bodohi Rakyat.

4
×

Money Politik Kembali Marak ,Pemilu Makin Bodohi Rakyat.

Sebarkan artikel ini

Centralinformationasean.com, Politik, Pemilu Gagal mencerdaskan Politik Rakyat
Lebih kurang tiga hari lagi ,akan dilaksanakan pencoblosan untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan mandat menjadi pemimpin daerah.

Pemilihan kali ini dilaksanakan serentak di seluruh wilayah republik ini. Dalam teorinya pilkada serentak, yang seharusnya menjadi momentum penting dalam mewujudkan demokrasi berkualitas, justru dalam praktek kali ini tidak menghasilkan pendidikan politik yang baik bagi rakyat. Alih-alih menjadi ajang pembelajaran demokrasi, banyak proses Pilkada yang dirasuki praktik pragmatisme politik, manipulasi informasi, hingga politik uang yang mengorbankan substansi demokrasi itu sendiri.

Salah satu penyebabnya adalah minimnya upaya para kandidat dan tim sukses untuk mendidik pemilih mengenai visi, misi, serta program kerja dari kandidat yang mereka usung.

Kampanye sering kali hanya menjadi ajang pencitraan dan serangan politik terhadap lawan, tanpa menawarkan solusi nyata bagi permasalahan masyarakat.

Ternyata selama itu Rakyat hanya dijadikan objek pasif yang menerima janji-janji politik tanpa mendapat ruang untuk berpikir kritis atau memahami pentingnya partisipasi aktif dalam proses demokrasi.

Selain itu, maraknya politik uang semakin memperburuk situasi. Pemilih yang seharusnya memilih berdasarkan program dan kapasitas kandidat, justru tergoda oleh iming-iming materi.

Hal ini tidak hanya melemahkan integritas demokrasi, tetapi juga mengajarkan kepada masyarakat bahwa suara mereka adalah komoditas yang bisa diperjualbelikan, bukan alat perubahan yang berharga.

Media massa dan media sosial, yang seharusnya menjadi alat edukasi politik, juga kerap gagal menjalankan fungsinya. Alih-alih memberikan informasi objektif dan mendalam, media sering kali terpolarisasi dan menjadi alat propaganda kandidat tertentu. Hal ini membuat rakyat sulit mendapatkan gambaran utuh tentang kandidat yang bertarung.

Untuk menjadikan Pilkada sebagai sarana pendidikan politik yang baik, perlu ada perubahan mendasar dalam pelaksanaannya. Partai politik, kandidat, dan media harus mengedepankan nilai-nilai demokrasi substantif. Selain itu, pendidikan politik kepada masyarakat harus dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya menjelang pemilu.

Tanpa itu, Pilkada serentak akan terus menjadi rutinitas prosedural tanpa makna mendalam bagi pembangunan demokrasi bangsa.

( Sholihul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *